Prosiding Seminar Estetik Galeri Nasional Indonesia #2 2015 "Larut " : seni, pengalaman dan pengetahuan (bagian ketiga)
Galeri Nasional Indonesia, Galeri Nasional Indonesia
Estetika pada dasarnya membicarakan kaidah keindahan. Maka perlu kita simak, apa sajakah yang dapat "diatur" dalam urusan kaidah keindahan itu, perlu juga disimak dan dikaji pihak-pihak mana sajakah dalam suatu satuan kemasyarakatan yang mempunyai peranan-peranan tertentu untuk "mengarahkan" kaidah-kaidah keindahan itu. (Edi Sedyawati, "Estetika dan Keindahan")
Bagi Imanuel Kant, estetika adalah puncak pencapaian eksplorasi pemikiran manusia yang bahkan melampaui rasio murni dan rasio praktis...keadiluhungan sebuah karya seni, yang sarat dengan the sublime yang akan menuntut setiap pengamatnya ke noumena. Kant menuntut kehadiran "para jenius" yang, katakanlah, siap menjadi "pewahyu" yang akan mencerahkan siapa saja yang mengalaminya, apapun bentuk cara berkeseniannya. Estetika Kantian tidak terlalu akrab dengan keseharian dan kebanalan karena yang ingin dicapainya adalah sesuatu yang bahkan mustahil dijangkau rasio murni dan praktis kita. Singkatnya, bila kita membentuk estetika nusantara lewat Kant, kita akan sampai pada sebuah pewacanaan yang padat dengan argumen-argumen yang membuat kita harus merenung untuk merenung saja. Namun ada kabar baik dari forma estetika Kant, bahwa setidaknya ada pukauan -sergapan pengalaman estetik- yang jadi pelengkap tiap aktivitas estetik kita. (Mardohar B.B. Simanjuntak, "Bentuk (Form) Estetika Modern: Problematika Estetika Kantian dari Perspektif Estetika Analitik")
Bagi Imanuel Kant, estetika adalah puncak pencapaian eksplorasi pemikiran manusia yang bahkan melampaui rasio murni dan rasio praktis...keadiluhungan sebuah karya seni, yang sarat dengan the sublime yang akan menuntut setiap pengamatnya ke noumena. Kant menuntut kehadiran "para jenius" yang, katakanlah, siap menjadi "pewahyu" yang akan mencerahkan siapa saja yang mengalaminya, apapun bentuk cara berkeseniannya. Estetika Kantian tidak terlalu akrab dengan keseharian dan kebanalan karena yang ingin dicapainya adalah sesuatu yang bahkan mustahil dijangkau rasio murni dan praktis kita. Singkatnya, bila kita membentuk estetika nusantara lewat Kant, kita akan sampai pada sebuah pewacanaan yang padat dengan argumen-argumen yang membuat kita harus merenung untuk merenung saja. Namun ada kabar baik dari forma estetika Kant, bahwa setidaknya ada pukauan -sergapan pengalaman estetik- yang jadi pelengkap tiap aktivitas estetik kita. (Mardohar B.B. Simanjuntak, "Bentuk (Form) Estetika Modern: Problematika Estetika Kantian dari Perspektif Estetika Analitik")
Detail Information
- Publisher
- Galeri Nasional Indonesia
- Tahun
- 2015
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-01-05T02:38:01Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah