Model pendidikan keaksaraan melalui TIK: optimalisasi handphone dalam pembelajaran keaksaraan
Suhanda, Endin
Pendidikan keaksaraan melalui TIK mempunyai tujuan untuk meningkatkan, memelihara, dan melestarikan kompetensi keaksaraan warga belajar pendidikan keaksaraan, melalui optimalisasi piranti HP sebagai media belajar utama pendukung pencapaian tujuan pembelajarannya. Adapun alasan penggunaan HP sebagai katalisator pencapaian tujuan belajarnya, dikarenakan di dalam HP antara lain terdapat: 1) menu panggilan dan penerimaan suara, menu penulisan dan penerimaan SMS, dan 2) aplikasi-aplikasi yang sangat memungkinkan warga belajar untuk intens belajar mengasah kompetensi berkomunikasi, dan mendapatkan informasi sebagai bahan untuk meningkatkan kompetensi menulis, membaca, dan berhitung.
Keberadaan model ini bisa dijadikan alternatif solusi untuk menjawab permasalahan utama penyelenggaraan pendidikan keaksaraan di Indonesia, yaitu kompetensi keaksaraan para lulusan program keaksaraan hilang atau menjadi buta aksara kembali, karena tidak memfungsionalkan kompetensi keaksaraan yang diperolehnya dalam aktivitas kehidupannya sehari-hari.
Karenanya dalam model terdapat beberapa inovasi yang ditawarkan,: 1) dirancang untuk menciptakan pembelajaran yang tidak tersekat ruang dan waktu, sehingga mendorong warga belajar untuk lebih aktif belajar mandiri, di luar panti belajar, serta tidak tergantung pada kehadiran tutor, 2) diformulasikan untuk menjaga kelestarian keberaksaraan warga belajar yang selama ini menjadi stigma penyebab timbulnya permasalahan buta aksara kembali, 3) dirancang untuk menciptakan pembelajaran yang interaktif, partisipatif, dan komunikatif, karena aktivitas belajar aksara disinergikan dengan aktivitas belajar menggunakan HP, dan 4) dirancang untuk memperkuat minat dan motivasi warga belajar untuk meningkatkan kemampuan keberaksaraannya, melalui pemberian HP sebagai bentuk ragi belajar.
Keberadaan model ini bisa dijadikan alternatif solusi untuk menjawab permasalahan utama penyelenggaraan pendidikan keaksaraan di Indonesia, yaitu kompetensi keaksaraan para lulusan program keaksaraan hilang atau menjadi buta aksara kembali, karena tidak memfungsionalkan kompetensi keaksaraan yang diperolehnya dalam aktivitas kehidupannya sehari-hari.
Karenanya dalam model terdapat beberapa inovasi yang ditawarkan,: 1) dirancang untuk menciptakan pembelajaran yang tidak tersekat ruang dan waktu, sehingga mendorong warga belajar untuk lebih aktif belajar mandiri, di luar panti belajar, serta tidak tergantung pada kehadiran tutor, 2) diformulasikan untuk menjaga kelestarian keberaksaraan warga belajar yang selama ini menjadi stigma penyebab timbulnya permasalahan buta aksara kembali, 3) dirancang untuk menciptakan pembelajaran yang interaktif, partisipatif, dan komunikatif, karena aktivitas belajar aksara disinergikan dengan aktivitas belajar menggunakan HP, dan 4) dirancang untuk memperkuat minat dan motivasi warga belajar untuk meningkatkan kemampuan keberaksaraannya, melalui pemberian HP sebagai bentuk ragi belajar.
Detail Information
- Publisher
- Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal Regional I Bandung
- Tahun
- 2013
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2018-11-08T05:29:15Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah